
SMANSARA.COM— Berangkat dari keprihatinan terhadap gempa bumi yang kerap melanda Indonesia, Kayla Ratnamaya, murid SMA Negeri 1 Jepara, menuangkan idenya melalui sebuah karya kriya berbentuk kapal. Tidak hanya mengangkat budaya Jepara dan Jawa Tengah, karya yang memanfaatkan sisa kayu industri mebel ini juga dirancang dengan gagasan fungsi deteksi dini gempa. Berkat kreativitas dan kerja kerasnya, Kayla berhasil meraih Juara 1 FLS3N 2026 cabang Kriya tingkat nasional, mewakili Provinsi Jawa Tengah.
Karya yang dibuatnya berbentuk kapal, terinspirasi dari ketangguhan armada maritim pada masa Ratu Kalinyamat. Badan kapal menggunakan kayu tatal, yaitu potongan sisa kayu dari industri mebel di Jepara. Pemilihan bahan ini juga menjadi cara Kayla memanfaatkan limbah kayu agar bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai.
Bagian layar kapal menjadi salah satu daya tarik utamanya. Pada sisi pertama, terdapat detail ukiran dan ornamen Candi Borobudur, sedangkan sisi lainnya menampilkan ukiran Masjid Mantingan dan ukiran khas Jepara. Berbagai unsur tersebut dipilih untuk mengenalkan kekayaan budaya Jawa Tengah, khususnya Jepara, kepada generasi muda.
Tidak hanya mengutamakan bentuk dan keindahan, Kayla juga memiliki gagasan untuk menghadirkan fungsi deteksi dini gempa pada produk interiornya. Ide ini muncul dari keinginannya agar sebuah karya tidak hanya menjadi pajangan, tetapi juga memiliki manfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Untuk menghasilkan karya tersebut, Kayla menjalani persiapan sejak April hingga September 2026 melalui seleksi tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Ia belajar berbagai teknik, mulai dari memahat dan memotong kuningan, memotong kayu, menggunakan gerinda, hingga menyambungkan logam dengan teknik patri.
Dalam prosesnya, Kayla mendapat bimbingan dari guru seni rupa, Pak Mada, dan ayahnya, Pak Makrus. Ia juga belajar langsung dari perajin logam di Desa Kriyan dan perajin kayu di Desa Sukodono. Meski begitu, proses pengerjaan tetap memiliki tantangan. Tangannya sempat melepuh saat belajar menggunakan alat patri, sementara tangannya juga terasa pegal ketika pertama kali menggunakan gerinda.
Setelah melewati berbagai proses tersebut, Kayla akhirnya berhasil meraih juara pertama di tingkat nasional. Kompetisi FLS3N 2026 cabang kriya tingkat nasional sendiri dilaksanakan secara daring pada 5–10 Oktober 2026.
Bagi Kayla, pencapaian ini diharapkan tidak berhenti sebagai kemenangan dalam perlombaan saja. Ia ingin karyanya terus dikembangkan dan bisa menjadi salah satu cara untuk mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda. Ia juga berharap prestasinya dapat memotivasi murid lain untuk berani mencoba hal baru dan mengikuti berbagai perlombaan.
Melalui karya kapalnya, Kayla menunjukkan bahwa inspirasi bisa datang dari hal-hal di sekitar kita, mulai dari sejarah daerah hingga sisa bahan yang sering dianggap tidak terpakai. Dari Jepara, ia membawa cerita tentang budaya, kreativitas, dan kepedulian ke tingkat nasional.
