
Panas matahari pagi menusuk empat pelajar asal SMAN 1 Jepara dalam perjalanan pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Perjalanan ini bukan untuk berwisata, melainkan bertujuan menambah wawasan dan keterampilan di bidang jurnalistik. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Yayasan Kartini Indonesia yang bekerja sama dengan Tim KKN XXI UNISNU Jepara. Di antara truk dan mobil besar, mereka berkendara dengan hati-hati. Empat siswa itu adalah Muhammad Rizqi Nur Raihan (XI.2), Hartanti Purnama Hesti (XI.6), Farid Azka Samsul Handoko (XI.6), dan Umar Abdillah (X.7). Tak hanya keempat pelajar SMAN 1 Jepara, ada 81 peserta yang terdiri atas pelajar dan mahasiswa UNISNU Jepara yang mengikuti pelatihan ini.
Sesampainya di area pelatihan, mereka memarkirkan kendaraan. Tak lama setelah mereka turun, terdengar suara mobil berhenti. Beberapa peserta tampak mulai menginjakkan kaki di area pelatihan. Sontak panitia langsung menyambut rombongan tersebut. Itulah rombongan yang membersamai Bunda Literasi Kabupaten Jepara. Empat pelajar SMAN 1 Jepara menandatangani absensi acara tersebut.
Setelahnya, acara dimulai oleh MC. Keempat pelajar tersebut terduduk di bawah rindangnya pohon mangga. Para peserta berdiri serentak guna menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Jepara, dilanjutkan dengan sambutan pembuka oleh Bunda Literasi Jepara, Ny. Hj. Laila Saidah Witiarso Utomo, SH., M.Kn. Dalam pidatonya, ia menggiring peserta agar menulis potensi yang ada di Jepara seperti ukurannya yang telah mendunia, pariwisata, mebel, dan lain-lain. Program Goes to BULAN disinggung olehnya. Program ini merupakan kepanjangan dari Rabu Literasi Anak.
“Menurut penelitian, Rabu adalah hari fokusnya anak. Senin belum fokus, Selasa mulai fokus, dan Rabu fokus. Kami berharap, dengan adanya Goes to BULAN, anak-anak dapat menambah wawasan dalam literasi, ” ungkapnya.
Dilanjutkan Ketua Dharma Wanita Persatuan, Ny. Erna Ary Bachtiar berharap supaya peserta bisa menjadi generasi muda yang aktif dalam menjaga NKRI melalui karya.
Selanjutnya, materi dipaparkan oleh Duta Bahasa Jawa Tengah, Amaliyatul Hidayah S.S. Di tengah pemaparan materinya, Bunda Literasi Jepara beserta rombongan pamit dan mengajak para peserta foto bersama di halaman rumah joglo dekat area pelatihan. Duta Bahasa Jawa Tengah, kemudian melanjutkan materi yang sempat terpotong itu. Amaliya menyampaikan bahwa seorang pelajar mestinya aktif dan responsif. Ia memberikan tips aktif untuk seluruh pelajar dan mahasiswa dengan memahami, mengelola, dan menyampaikan informasi. Responsif, ia analogikan dengan buah mangga yang akan jatuh. Duta Bahasa tersebut menunjuk dengan raut wajah yang takut akan buah mangga yang jatuh, dan ia informasikan kepada seluruh peserta. Tak lama kemudian banyak pasang mata yang tertuju pada buah mangga yang ditunjuknya.
Suasana asri menjelang siang, hanya sedikit angin berlalu-lalang. Pemateri kedua, Septiana Wibowo, seorang jurnalis dan penulis buku melanjutkan sesi sembari membawa kertas putih berisikan cetakan huruf, simbol, dan angka yang terangkai menjadi satu: menghasilkan materi. Panitia KKN UNISNU berkeliling dengan ramah membagikan kertas putih materi itu. Jurnalis tersebut memaparkan tips menulis berita langsung dan berita features. Ia menyampaikan bahwa lebih enak berita features dibandingkan berita langsung karena bahasanya tidak kaku dan tidak lekang oleh waktu. Ciri-ciri, langkah wawancara, struktur, dan contoh ia sampaikan dengan rinci dan jelas. “Berita langsung harus rilis pada hari itu juga, namun berita features tidak,” ungkapnya saat menyampaikan materi.
Drs. Hadi Priyanto. M.M, penulis serta pegiat literasi itu turut menyampaikan materi tentang langkah-langkah menulis artikel. Di tengah penyampaian materi, Hadi Priyanto tiba-tiba menaruh perhatian pada salah satu peserta. Wajahnya terasa tidak asing. Ia kemudian menanyakan nama, asal sekolah, hingga aktivitas peserta tersebut dalam menghubunginya untuk keperluan publikasi berita. Hadi Priyanto memperkenalkan peserta tersebut, namanya Farid Azka Samsul Handoko yang dulunya merupakan siswa SMPN 5 Jepara yang aktif menghubunginya untuk rilis berita kegiatan sekolahnya di Suara Baru.
Pagi telah beranjak siang. Kondisi area pelatihan mulai terasa berbeda. Kegiatan diakhiri. Dengan sisa-sisa tenaga, tubuh lemas peserta terangkat untuk menyanyikan Lagu Bagimu Negeri sebagai tanda ditutupnya rangkaian acara yang telah berjalan sejak pagi itu. Hadi Priyanto juga mengajak peserta untuk berkunjung sekaligus membaca beragam buku di perpustakaan Yayasan Kartini. Keempat siswa asal SMAN 1 Jepara tersebut mengajak foto Hadi Priyanto sebagai bentuk dokumentasi. Seusai kegiatan, keempat siswa tersebut kembali menuju Jepara kota. Perjalanan pulang kembali mempertemukan mereka dengan truk dan mobil-mobil yang memenuhi jalanan. Namun, kali ini mereka membawa sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan—pengetahuan baru, pengetahuan yang lebih luas dalam halnya jurnalistik yang siap mereka terapkan dalam berbagai karya berikutnya.
