
SMANSARA.COM— Suara para kandidat bergantian memenuhi lapangan SMAN 1 Jepara ketika penyampaian visi dan misi Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK) berlangsung. Di hadapan warga sekolah, setiap pasangan membawa gagasan masing-masing tentang arah MPK ke depan.
Di tengah penyampaian gagasan tersebut, pasangan calon nomor urut 1, Vito Irsyad Mawardi dari kelas XI.3 sebagai calon Ketua MPK dan Lea Dwi Juan dari kelas X.8 sebagai calon Wakil Ketua MPK, hadir dengan tawaran pembaruan sistem organisasi sekaligus penguatan aspirasi siswa.
Keinginan untuk maju tidak datang tanpa bekal. Pengalaman Vito selama aktif dalam berbagai kegiatan organisasi menjadi salah satu alasan yang mendorongnya untuk mencalonkan diri. Pengalaman tersebut ingin ia lanjutkan dan maksimalkan melalui kepengurusan MPK.
Bersama Juan, Vito membawa visi menjadikan MPK sebagai forum sekaligus sarana penghubung yang BERPOIN, yaitu Berintegritas, Responsif, dan Inklusif. Melalui visi tersebut, keduanya ingin mendorong kepedulian sosial serta meningkatkan keterlibatan warga sekolah dalam menyampaikan maupun menyelesaikan berbagai persoalan.
Visi tersebut kemudian dijabarkan melalui empat misi yang mereka rangkum dalam PEKA: Peduli, Evaluatif, Komunikatif, dan Aspiratif. Masing-masing memiliki fokus yang berbeda, mulai dari memperhatikan kebutuhan warga sekolah, mengevaluasi sistem organisasi, membangun komunikasi, hingga menampung dan mengawal aspirasi siswa.
Dari keempat misi tersebut, evaluatif, komunikatif, dan aspiratif menjadi perhatian utama. Salah satu gagasan yang mereka tawarkan adalah pembenahan AD/ART organisasi dengan melibatkan OSIS melalui komunikasi dan kerja sama antarlembaga.
Tak berhenti pada sistem organisasi, pasangan nomor urut 1 juga menyoroti Smansara Bersuara. Mereka ingin mengembangkan program tersebut agar tidak hanya menjadi tempat pengumpulan laporan melalui QR, tetapi juga memiliki mekanisme pemantauan yang lebih jelas.
“Bukan sekadar menyebar QR, tetapi juga memantau pelaporan masalah terkait lingkungan sekolah secara langsung. Kami akan merekap setiap data yang diterima dua minggu sekali,” jelas Vito.
Menurut keduanya, pengembangan Smansara Bersuara perlu diawali dengan mengetahui persoalan yang membuat program tersebut belum berjalan secara optimal. Karena itu, mereka melakukan survei sebagai bahan evaluasi sekaligus dasar untuk menentukan pengembangan fitur selanjutnya.
Aspirasi yang masuk pun tidak dibiarkan berhenti pada tahap pelaporan. Pasangan ini telah berkoordinasi dengan pihak kesiswaan dan dewan guru sebagai pihak yang berwenang dalam menindaklanjuti berbagai laporan dari siswa.
Bagi Vito dan Juan, pembaruan MPK maupun OSIS juga tidak selalu berarti menciptakan banyak program baru. Mereka melihat adanya sistem dan program kerja yang perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Pembenahan sistem kerja dan penyegaran konsep menjadi bagian dari perubahan yang ingin mereka hadirkan.
Meski membawa gagasan perubahan, keduanya tetap menempatkan musyawarah sebagai dasar dalam menjalankan organisasi. Perbedaan pendapat, menurut mereka, perlu dihadapi melalui komunikasi dan pertimbangan kepentingan bersama hingga tercapai mufakat.
Di balik gagasan tentang sistem dan program kerja, suara siswa tetap menjadi titik penting yang ingin mereka perjuangkan. MPK diharapkan bukan sekadar menjadi bagian dari struktur organisasi sekolah, melainkan ruang bagi siswa untuk menyampaikan hal-hal yang mereka rasakan.
Orasi mungkin berakhir ketika pasangan calon meninggalkan hadapan para siswa. Namun, gagasan yang disampaikan masih menyisakan harapan tentang seperti apa MPK akan bekerja setelah pemilihan usai.
Bagi pasangan nomor urut 1, perubahan tersebut bermula dari keberanian untuk menyampaikan suara.
“Jangan ragu menitipkan aspirasi,” ujar mereka, menegaskan keinginan untuk menjadikan MPK sebagai penghubung antara keresahan siswa dan pihak yang dapat menindaklanjutinya.
