Pesan Rahasia Di Balik ‘Resah’ Payung Teduh

Sampul album 'Dunia Batas' karya Payung Teduh yang dirilis pada tahun 2012.

Sampul album ‘Dunia Batas’ karya Payung Teduh yang dirilis pada tahun 2012.

Siapa sih yang tak tahu dengan band yang syahdu ini? Ya, benar! Payung Teduh merupakan salah satu band alternatif Indonesia beraliran fusi antara Folk, Keroncong dan Jazz atau yang biasa disebut Musik Indie yang memberikan cita rasa baru di dunia musik Indonesia. Ternyata di antara lagu-lagunya yang memang teduh dan easy listening itu mempunyai makna yang dalam di salah satu lagunya.

Muncul dari album kedua mereka, ‘Dunia Batas’, lagu ‘Resah’ ternyata mempunyai segudang cerita yang mendalam di balik lirik-lirik yang mengayun-ngayun. Salah satu personil Payung Teduh, Aziz Kariko atau akrab disapa Comi, yang juga seorang dosen, menceritakan hal tersebut kepada mahasiswanya.

Semuanya bermula pada pengalaman Comi saat mendaki bersama teman-temannya. Salah satu teman laki-lakinya bercerita bahwa ia sedang dilanda masalah cinta. Di tengah perjalanan, temannya hilang dan semuanya mencari. Karena kesulitan mencari dan tak kunjung ketemu, akhirnya mereka memutuskan untuk menunggunya di pos selanjutnya. Tak kunjung datang, mereka mencarinya kembali. Setelah ditemukan, temannya yang hilang itu sudah tidak bernyawa dengan gantung diri di atas pohon. Ternyata, di kantung bajunya tertinggal kertas yang berisi puisi. Penggalan puisi tersebut kemudian dijadikan lirik lagu ‘Resah’.

Pada bait pertama, disebutkan “aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap, tapi aku tak bisa melihat matamu” yang bermaksud bahwa berjalan dengan seseorang di dalam hujan, dan malam gelap dan ia tak bisa melihat matanya. Kiasan ini mungkin karena mereka berbeda, berbeda alam dan kehidupan.

Hal ini semakin diperkuat oleh penggalan lirik bait ketiga, disebutkan “aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang, tergoyang angin menantikan tubuh itu” yang bermaksud tentang cara sang penulis puisi untuk bisa bertemu lagi dengan kekasihnya di dunia yang berbeda yaitu bunuh diri. Dengan adanya kata “melayang-layang” yang berarti cara bunuh dirinya dengan cara gantung diri dan jiwa yang telah lepas dari dirinya tergoyang angin di atas sana menantikan tubuh sang kekasih untuk bisa bertemu kembali. Untuk kali ini, di dunia yang sama.

Memang terdengar romantis, tapi juga terdengar menyeramkan. Bagaimana menurutmu? (SJPA)

Author: Redaksi

Pers SmansaraDotCom

Share This Post On