Sosialisasi Bahaya Seks Pranikah

Sesi tanya jawab Sosialisasi Bahaya Seks Pranikah oleh RSUD RA KARTINI Kamis (9/4) di ruang Multimedia SMA Negeri 1 Jepara.

Sesi tanya jawab Sosialisasi Bahaya Seks Pranikah oleh RSUD RA KARTINI Kamis (9/4) di ruang Multimedia SMA Negeri 1 Jepara.

Sosialisasi bahaya Seks pranikah berlangsung di ruang Multimedia SMAN 1 Jepara, pada Kamis (9/4) mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB. Sosialisasi Bahaya seks pranikah merupakan salah satu cara penanggulangan maraknya seks pranikah dan seks bebas yang semakin hari semakin meresahkan. Sosialisasi ini juga dalam rangka ulang tahun RSUD RA KARTINI yang jatuh pada tanggal 21 April.

Selama berlangsungnya sosialisasi mendatangkan dua narasumber sekaligus yang menyampaikan bahaya seks pranikah dari segi kedokteran dan psikologi. Dari sudut pandang kedokteran disampaikan oleh Dr. Candra Listiyani dan dari sudut pandang psikologi dari Anna Hasta Wardani, Psi. Sosialisasi ini juga membuka sesi tanya jawab untuk para siswa tentang pendidikan seks.

Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seks pranikah mulai dari faktor fisik, pengaruh orang tua, pergaulan bebas, pengaruh bebasnya penjualan alat kontrasepsi, serta pengaruh media yang berbau pornografi. semua itu didukung oleh lemahnya peran dan pengawasan orangtua serta kurangnya pengetahuan anak tentang pendidikan seks. Seharusnya pendidikan seks diberikan sejak dini agar anak bisa menjaga diri mereka dari pergaulan bebas dan lingkungan yang buruk.

“Sosialisasi seperti ini sangat penting di adakan. Banyak siswa yang kurang tahu tentang pendidikan seks karena menurut beberapa orang tua pendidikan seks merupakan hal yang tabu. Banyak juga siswa yang enggan terbuka terhadap orang tua mereka sendiri, mereka lebih memilih bertanya pada teman mereka atau mencari tau sendiri di internet yang belum tentu benar. Padahal alangkah baiknya mereka bertanya pada orang tua mereka sendiri atau seseorang yang lebih tau. Jika kita liat sekarang ini banyak siswa SMU yang hamil diluar nikah, mereka putus sekolah dan enggan melanjutkan pendidikan mereka karena malu. Tapi itu sama saja merusak penerus generasi bangsa kita sendiri.” Tutur WaKasek. bagian Kesiswaan, Drs. Busri Isma’il. (FA)

Author: Redaksi

Pers SmansaraDotCom

Share This Post On